Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Dunia dalam beberapa pekan mendatang akan menyaksikan penghormatan dan perpisahan besar-besaran terhadap seorang pemimpin yang langka dalam sejarah manusia; seorang pemimpin yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk melawan kesewenang-wenangan dan dominasi global serta meletakkan dasar-dasar peradaban yang humanis dan Islami.
Kehidupan dan perjuangan Pemimpin Syahid Revolusi Islam akan terus menjadi inspirasi bagi jutaan manusia merdeka di seluruh dunia. Sepanjang hidupnya, ia dikenal karena kesederhanaannya, perjuangannya untuk menegakkan keadilan, serta upayanya membebaskan manusia—tanpa memandang agama dan keyakinan—dari penindasan para tiran dan kekuatan arogan dunia. Dengan kebijaksanaan, keteguhan, dan pengorbanannya, ia akhirnya menyerahkan jiwa raganya bersama keluarganya dalam jalan yang diyakininya sebagai persiapan menuju pemerintahan mulia Sang Penyelamat umat manusia.
Menurut banyak pengamat internasional, kehidupan dan kesyahidan Pemimpin Syahid Revolusi Islam telah membuka babak baru bagi Front Perlawanan dan kubu kebenaran, sekaligus mempercepat proses kemunduran dan keruntuhan kubu kesombongan, penjajahan, dan kezaliman.
Dalam konteks tersebut, Dr. Abbas Khameyar, Wakil Rektor Bidang Kebudayaan Universitas Agama dan Mazhab, menjelang prosesi pemakaman besar-besaran Pemimpin Syahid Revolusi Islam, menulis sebuah artikel berjudul:
"Menjelang Perpisahan dengan Pemimpin Syahid; Kita Sedang Menyaksikan Satu Babak Sejarah Sebuah Umat"
yang diterbitkan oleh media Al-Mayadeen.
Ia menulis:
"Hanya sejarah yang dapat memberikan penilaian akhirnya terhadap para pemimpin dan pengalaman mereka. Namun bagi banyak orang, nama Syahid Sayyid Ali Khamenei selalu dikaitkan dengan makna-makna seperti perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar, perjuangan melawan tirani, dan pembelaan terhadap kemerdekaan bangsa-bangsa."
Dengan semakin dekatnya prosesi pemakaman Pemimpin Syahid Revolusi Islam, peristiwa ini tidak sekadar menjadi perpisahan dengan seorang pemimpin politik atau simbol keagamaan. Lebih dari itu, dunia sedang mengucapkan selamat tinggal kepada sosok yang selama beberapa dekade terakhir membentuk arah perjalanan salah satu kawasan paling sensitif dan bergolak di dunia.
Bagi jutaan orang di Iran, dunia Islam, dan bahkan di luar dunia Islam, ia telah menjadi simbol kemerdekaan, perlawanan terhadap kesombongan global, dan pembela martabat bangsa-bangsa. Terlepas dari apakah seseorang mendukung atau mengkritik pandangannya, sulit untuk menyangkal pengaruh besar yang dimilikinya dalam membentuk dinamika Timur Tengah kontemporer.
Ia merupakan kelanjutan dari tradisi perjuangan yang menggabungkan perlawanan terhadap tirani internal dengan penolakan terhadap kolonialisme eksternal. Pengalaman panjangnya di penjara dan berbagai tekanan pada masa rezim Syah membentuk pandangan politiknya—pandangan yang berlandaskan pada hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri, penolakan terhadap ketundukan kepada kekuatan penindas, dan penjagaan martabat nasional.
Karena itu, isu Palestina selalu hadir dalam pidato-pidatonya sebagai persoalan keadilan kemanusiaan dan ujian bagi nurani dunia.
Namun perhatian beliau tidak terbatas pada politik dan konflik geopolitik. Ia berulang kali menegaskan bahwa dunia Islam hanya dapat mengatasi berbagai krisisnya melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pembangunan kemandirian.
Beliau meyakini bahwa keterbelakangan ilmiah akan berujung pada ketergantungan politik dan ekonomi. Menurutnya, kemerdekaan sejati dimulai dari laboratorium, universitas, dan pusat-pusat penelitian.
Karena itu, beliau selalu mendorong generasi muda untuk berinovasi dan berkreasi. Investasi pada manusia dan akal sehat dipandang sebagai jalan utama untuk membebaskan kehendak suatu bangsa dan mengembalikan peran peradabannya.
Berdasarkan pandangan ini, beliau memandang proyek "Kebangkitan Peradaban Islam" sebagai sebuah agenda besar yang memadukan iman dan akal, moralitas dan ilmu pengetahuan, serta keadilan dan pembangunan.
Beliau tidak menginginkan umat Islam hanya menjadi konsumen produk dan pencapaian bangsa lain. Sebaliknya, mereka harus menjadi produsen ilmu, budaya, dan seni, serta menghadirkan model peradaban yang berakar pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan mereka sendiri.
Salah satu pilar terpenting pemikirannya adalah keyakinan mendalam terhadap konsep "umat yang satu" (Ummah Wahidah).
Beliau berkali-kali memperingatkan bahaya perpecahan mazhab dan sektarianisme, yang menurutnya merupakan salah satu penyebab terbesar melemahnya dunia Islam dan terkurasnya energi serta sumber dayanya.
Beliau berpendapat bahwa konflik antarumat Islam hanya menguntungkan kekuatan-kekuatan yang memiliki ambisi terhadap kawasan ini. Masa depan tidak dapat dibangun di atas dasar takfir dan pengucilan, tetapi melalui dialog, saling mengenal, saling memahami, kerja sama, dan persatuan berdasarkan nilai-nilai bersama yang besar.
Karena itu, seruan untuk persatuan umat Islam dan mengatasi perpecahan selalu menjadi tema tetap dalam pidato-pidatonya. Beliau memandangnya sebagai kebutuhan agama, sejarah, sekaligus kebutuhan peradaban.
Mengenai perempuan, beliau menegaskan bahwa kemajuan sosial tidak akan tercapai tanpa partisipasi aktif perempuan dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan sosial.
Beliau berulang kali menekankan bahwa perempuan adalah mitra penuh dalam membangun masyarakat. Pada saat yang sama, beliau juga menekankan pentingnya menjaga martabat kemanusiaan dan identitas autentik perempuan.
Beliau menolak dua bentuk ekstrem: marginalisasi perempuan di satu sisi, dan reduksi perempuan menjadi sekadar komoditas konsumsi di sisi lain.
Beliau menginginkan sebuah pandangan yang mengokohkan posisi perempuan dalam masyarakat dan membuka ruang bagi kreativitas, pengorbanan, serta tanggung jawab sosial mereka.
Selain itu, perhatian beliau terhadap budaya dan sastra memperlihatkan dimensi lain dari kepribadiannya.
Beliau menguasai sastra Arab dan Persia, mencintai puisi klasik maupun modern, dan meyakini bahwa kata-kata yang indah dapat menyucikan jiwa, menumbuhkan harapan, serta membangkitkan kesadaran manusia.
Dalam pandangannya, seni memiliki misi moral dan kebudayaan yang melampaui sekadar kenikmatan estetis. Seni harus membantu membangun manusia dan membela kebenaran, kebaikan, serta keindahan.
Dalam bidang kepemimpinan dan manajemen, beliau mampu menjaga kohesi kelembagaan dan visi jangka panjang di tengah perang, sanksi, dan tekanan internasional. Dengan pemikiran strategisnya, beliau berhasil mengelola berbagai krisis yang dihadapi negaranya.
Banyak pihak mengakui bahwa kehadiran beliau memainkan peran besar dalam membentuk arah kebijakan utama Republik Islam dan memengaruhi berbagai persamaan politik kawasan.
Pada akhirnya, hanya sejarah yang akan memberikan penilaian terakhir terhadap para pemimpin dan pengalaman mereka.
Namun bagi banyak orang, nama Syahid Sayyid Ali Khamenei akan selalu dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi, perjuangan melawan tirani, dan pembela kemerdekaan bangsa-bangsa.
Dari sudut pandang ini, prosesi pemakamannya bukan hanya penutup perjalanan hidup seorang manusia, tetapi juga penutup satu bab penting dalam sejarah Timur Tengah dan dunia Islam—bab yang diwarnai oleh nilai-nilai kehormatan, kemerdekaan, keadilan, persatuan, dan harapan akan kebangkitan kembali sebuah peradaban.
Nilai-nilai tersebut akan tetap menjadi sumber inspirasi bagi jutaan manusia serta bahan renungan, dialog, dan penilaian bagi generasi-generasi mendatang.
Your Comment